Jumat, 28 Juni 2013

INFLASI DI INDONESIA


INFLASI DI INDONESIA

Tahun 2010 telah terlewati dan member catatan tentang inflasi yang ditergetkan yaitu 6,96%. Angka tersebut telah melampaui target yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia. Namun inflasi tersebut dikatakan cukup terkendali sejalan dengan menguatnya nilai tukar rupiah.
Inflasi dalam ilmu ekonomi dapat diartikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang berkaitan dengan beberapa faktor, yaitu: meningkatnya konsumsi masyarakat, kelebihan likuiditas di pasar yang memicu konsumsi, bahkan spekulasi, sampai ketidak lancaran pendistribusian barang-barang sampai wilayah yang dituju.
Inflasi merupakan hal yang penting untuk dpantau karena keberadaanya sangat erat hubungannya dengan daya beli masyarakat. Inflasi di dunia modern sangat memberatkan masyarakat, dikarenakan dapat mengakibatkan melemahnya efisiensi dan produktifitas ekonomi investasi. 
Keberadaan inflasi, kenaikan harga barang,  ketidak jelasan ongkos serta pendapatan yang di terima oleh masyarakat senantiasa menjadi permasalahan yang memberatkan pihak masyarakat menengah kebawah.
  • PENDAHULUAN
Inflasi, suatu kata yang tidak asing lagi bagi para agen ekonomi, tidak saja bagi pemerintah dan pelaku bisnis menengah-besar, tetapi juga bagi lapisan terbawah penggerak sektor riil, termasuk sektor rumah tangga keluarga. Kata ini selalu pula menjadi obyek studi para peneliti ekonomi, dan referensi kebijakan oleh pemerintah untuk berbagai alternatif keputusan ekonomi dan politik. Tidak hanya itu, inflasi selalu pula menjadi “kata kunci” keputusan investor untuk berinvestasi di negara tujuan investasi. Inflasi yang terkendali (baca: rendah dan stabil) selalu memberikan insentif ekonomi bagi para agen ekonomi, menambah insentif politik bagi pejabat pemerintah, dan memperbaiki catatan positif kinerja perekonomian nasional.
Sebaliknya, inflasi yang tak terkendali dipastikan dapat mereduksi potensi profit para pengusaha, mengorupsi daya beli konsumen, menimbulkan inefisiensi aktivitas produksi, dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Singkatnya, gejolak inflasi bisa memunculkan piuh pada sisi produksi, konsumsi, fiskal pemerintah dan memperburuk kinerja makro-ekonomi suatu Negara.

  • ISI
Inflasi mempunyai pengertian sebagai sebuah gejala kenaikan harga barang yang bersifat secara terus menerus. Inflasi juga dapat terjadi apabila arus uang dan baranag mengalami gangguan atau ketidak lancaran pendistribusian barang sampai daerah yang dituju. Dari pengertian tersebut inflasi dapat diartikan suatu gejala dimana banayak terjadi kenaikan harga secara di sengaja maupun alami terjadi secara sendirinya, dikarenakan faktor terganggunya arus uang dan pendistribusian barang. Tidak hanya disuatu wilayah, inflasi dapat terjadi dinegara lain bhakan diseluruh dunia.

Inflasi dapat digolongkan berdasarkan parah tidaknya inflasi, yaitu:
Inflasi Ringan (Di bawah 10% setahun)
Inflasi Sedang
Inflasi Berat ( antara 50-100% setahun)
Hiper Inflasi (di atas 100% setahun)
Inflasi di suatu Negara atau dibeberapa daerah dapat terjadi oleh beberapa faktor yaitu:
Jumlah uang yang beredar, dan defisit anggaran belanja pemerintah.

Penyebab inflasi dapat dibagi menjadi beberapa kategori yaitu:
1. Demand Side Inflation, yaitu disebabkan oleh kenaikan permintaan agregat yang melebihi kenaikan penawaran agregat
2. Supply Side Inflation, yaitu disebabkan oleh kenaikan penawaran agregat yang melebihi permintaan agregat
3. Demand Supply Inflation, yaiti inflasi yang disebabkan oleh kombinasi antara kenaikan permintaan agregat yang kemudian diikuti oleh kenaikan penawaran agregat,sehingga harga menjadi meningkat lebih tinggi
4. Supressed Inflation atau Inflasi yang ditutup-tutupi, yaitu inflasi yang pada suatu waktu akan timbul dan menunjukkan dirinya karena harga-harga resmi semakin tidak relevan dalam kenyataan.
Keberadaan inflasi di suatu Negara atau di suatu wilayah dapat dikendalikan atau dapat dicegah oleh pemerintah.dengan beberapa kebijakn yang telah dirancang hingga sedemikian rupa dan dapat diterapkan dalam masyarakat, hingga beberapa dari kebijakan-kebijakan itu dapat membantu permasalahn yang dihadpi oleh masyarakat. 

Beberapa cara yang dapat mencegah terjadinya inflasi yaitu:
  • Kebijakan Moneter
  • Kebijaksanaan Fiskal
  • Kebijaksanaan yang berkaitan dengan Output.
  • Kebijaksanaan Penentuan Harga dan Indexing.
  • Kebijakan Lain seperti: Peningkatan Produksi. 
Kebijakan Upah. 
Pengawasan Harga. 
  • Perbaikan Prilaku Masyarakat

Jika inflasi telah terjadi dan masyarakat telah merasakan dampak yang telah diberikan oleh inflasi tersebut ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Dengan beberapa cara yang akan disebutkan diharapakan dampak yang telah dialami oleh masyarakat kini akan mulai berangsur ringan, dan dapat terselesaikan. 
Adapun cara mengatasi inflasi tersebut adalah:
1. Peningkatan tingkat suku bunga
2. Penjualan surat berharga
3. Peningkatan cadangan Kas
4. Pengetatan pemberian kredit

  • KESIMPULAN
Inflasi mempunyai pengertian sebagai sebuah gejala kenaikan harga barang yang bersifat secara terus menerus. Inflasi juga dapat terjadi apabila arus uang dan baranag mengalami gangguan atau ketidak lancaran pendistribusian barang sampai daerah yang dituju. Dan faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya inflasi adalah Jumlah uang beredar, defisit anggaran belanja pemerintah, demand Side Inflation, Supply Side Inflation, Demand Supply Inflation, Supressed Inflation atau Inflasi yang ditutup-tutupi. Cara-cara untuk mengatasi inflasi adalah Peningkatan tingkat suku bunga, Penjualan surat berharga, Peningkatan cadangan Kas, Pengetatan pemberian kredit.









Minggu, 19 Mei 2013

GDP



   A.   Pendahuluan

Definisi Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product (GDP).
Gross Domestic Product (GDP) adalah penghitungan yang digunakan oleh suatu negara sebagai ukuran utama bagi aktivitas perekonomian nasionalnya, tetapi pada dasarnya GDP mengukur seluruh volume produksi dari suatu wilayah (negara) secara geografis.

Sedangkan menurut McEachern (2000:146), GDP artinya mengukur nilai pasar dari barang dan jasa akhir yang diproduksi oleh sumber daya yang berada dalam suatu negara selama jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. GDP juga dapat digunakan untuk mempelajari perekonomian dari waktu ke waktu atau untuk membandingkan beberapa perekonomian pada suatu saat.
Gross domestic product hanya mencakup barang dan jasa akhir, yaitu barang dan jasa yang dijual kepada pengguna yang terakhir. Untuk barang dan jasa yang dibeli untuk diproses lagi dan dijual lagi (Barang dan jasa intermediate) tidak dimasukkan dalam GDP untuk menghindari masalah double counting atau penghitungan ganda, yaitu menghitung suatu produk lebih dari satu kali.
Contohnya, grosir membeli sekaleng tuna seharga Rp 6.000,- dan menjualnya seharga Rp 9.000,-. Jika GDP menghitung kedua transaksi tersebut , Rp 6.000,- dan Rp 9.000,-, maka sekaleng tuna itu dihitung senilai Rp 15.000,- (lebih besar daripada nilai akhirnya). Jadi, GDP hanya menghitung nilai akhir dari suatu produk yaitu sebesar Rp 9.000,-. Untuk barang yang diperjual-belikan berulang kali (second-hand) tidak dihitung dalam GDP karena barang tersebut telah dihitung pada saat diproduksi. (2000:146-147).

Tipe-tipe GDP
Ada dua tipe GDP, yaitu :
1) GDP dengan harga berlaku atau GDP nominal, yaitu nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam suatu tahun dinilai menurut harga yang berlaku pada tahun tersebut.
2) GDP dengan harga tetap atau GDP riil, yaitu nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam suatu tahun dinilai menurut harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang seterusnya digunakan untuk menilai barang dan jasa yang dihasilkan pada tahun-tahun lain Angka-angka GDP merupakan hasil perkalian jumlah produksi (Q) dan
harga (P), kalau harga-harga naik dari tahun ke tahun karena inflasi, maka besarnya GDP akan naik pula, tetapi belum tentu kenaikan tersebut menunjukkan jumlah produksi (GDP riil). Mungkin kenaikan GDP hanya disebabkan oleh kenaikan harga saja, sedangkan volume produksi tetap atau merosot.

Perhitungan GDP

Menurut McEachern (2000:147) ada dua macam pendekatan yang digunakan dalam perhitungan GDP, yaitu:
1. Pendekatan pengeluaran, menjumlahkan seluruh pengeluaran agregat pada seluruh barang dan jasa akhir yang diproduksi selama satu tahun.
2. Pendekatan pendapatan, menjumlahkan seluruh pendapatan agregat yang diterima selama satu tahun oleh mereka yang memproduksi output tersebut.

GDP berdasarkan Pendekatan Pengeluaran.
Menurut McEachern (2000:149) untuk memahami pendekatan pengeluaran pada GDP, kita membagi pengeluaran agregat menjadi empat komponen, konsumsi, investasi, pembelian pemerintah, dan ekspor netto. Kita akan membahasnya satu per satu.
1. Konsumsi, atau secara lebih spesifik pengeluaran konsumsi perorangan, adalah pembelian barang dan jasa akhir oleh rumah tangga selama satu tahun. Contohnya : dry cleaning, potong rambut, perjalanan udara, dsb.
2. Investasi, atau secara lebih spesifik investasi domestik swasta bruto, adalah belanja pada barang kapital baru dan tambahan untuk persediaan.
Contohnya : bangunan dan mesin baru yang dibeli perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa.
3. Pembelian pemerintah, atau secara lebih spesifik konsumsi dan investasi bruto pemerintah, mencakup semua belanja semua tingkat pemerintahan pada barang dan jasa, dari pembersihan jalan sampai pembersihan ruang pengadilan, dari buku perpustakaan sampai upah petugas perpustakaan. Di dalam pembelian pemerintah ini tidak mencakup keamanan sosial, bantuan kesejahteraan, dan asuransi pengangguran. Karena pembayaran tersebut mencerminkan bantuan pemerintah kepada penerimanya dan tidak mencerminkan pembelian pemerintah.
4. Ekspor netto, sama dengan nilai ekspor barang dan jasa suatu negara dikurangi dengan impor barang dan jasa negara tersebut. Ekspor netto tidak hanya meliputi nilai perdagangan barang tetapi juga jasa.

Dalam pendekatan pengeluaran, pengeluaran agregat negara sama dengan penjumlahan konsumsi, C, investasi, I, pembelian pemerintah, G, dan ekspor netto, yaitu nilai ekspor, X, dikurangi dengan nilai impor, M, atau (X-M).
Penjumlahan komponen tersebut menghasilkan pengeluaran agregat, atau GDP:
C + I + G + (X-M) = Pengeluaran agregat = GDP

GDP berdasarkan Pendekatan Pendapatan.
Menurut McEachern (2000:151) pendapatan agregat sama dengan penjumlahan semua pendaptan yang diterima pemilik sumber daya dalam perekonomian (karena sumber dayanya digunakan dalam proses produksi). Sistem pembukuan double-entry dapat memastikan bahwa nilai output agregat sama dengan pendapatan agregat yang
dibayarkan untuk sumber daya yang digunakan dalam produksi output tersebut: yaitu upah, bunga, sewa, dan laba dari produksi.
Jadi kita dapat mengatakan bahwa:
Pengeluaran agregat = GDP = Pendapatan agregat
Suatu produk jadi biasanya diproses oleh beberapa perusahaan dalam perjalanannya menuju konsumen. Meja kayu, misalnya, mulanya sebagai kayu mentah, kemudian dipotong oleh perusahaan pertama, dipotong sesuai kebutuhan mebel oleh perusahaan kedua, dibuat meja oleh perusahaan ketiga, dan dijual oleh perusahaan keempat. Double counting dihindari dengan cara hanya memperhitungkan nilai pasar dari meja pada saat dijual kepada pengguna akhir atau dengan cara menghitung nilai tambah pada setiap tahap produksi. Nilai tambah dari setiap perusahaan sama dengan harga jual barang perusahaan tersebut dikurangi dengan jumlah yang dibayarkan atas input perusahaan lain.
Nilai tambah dari tiap tahap mencerminkan pendapatan atas pemilik sumber daya pada tahap yang bersangkutan. Penjumlahan nilai tambah pada semua tahap produksi sama dengan nilai pasar barang akhir, dan penjumlahan nilai tambah seluruh barang dan jasa akhir adalah sama dengan GDP berdasarkan pendekatan pendapatan.











   B.   Isi 

ANALISIS KONSUMSI MASYARAKAT DI INDONESIA

Dalam kasus ini ada beberapa  isu-isu penting yang selalu dihadapi oleh setiap individu dalam mencapai tujuannya tersebut. Salah satu komponen penting untuk menilai perkembangan tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk adalah pola pengeluaran konsumsi masyarakat. Apabila pengeluaran-pengeluaran konsumsi semua orang dalam suatu Negara dijumlahkan , maka hasilnya adalah pengeluaran konsumsi masyarakat Negara yang bersangkutan.
           
Menurut Keynes, faktor utama yang menentukan prestasi ekonomi
suatu negara adalah pengeluaran agregat yang merupakan pembelanjaan
masyarakat terhadap barang dan jasa. Keputusan konsumsi rumah tangga mempengaruhi keseluruhan perilaku perekonomian baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.
           
Dikebanyakan Negara pengeluaran konsumsi sekitar  50% - 75%  dari gross domestic product (GDP) sehingga konsumsi rumah tangga dapat mempengaruhi fluktuasi kegiatan ekonomi dari waktu kewaktu, dimana konsumsi individu berbanding lurus dengan pendapatannya. Di Indonesia, konsumsi juga memiliki peranan yang sangat dominan dalam perekonomian, dimana kontribusi konsumsi terhadap perekonomian Indonesia sangat besar dan dominan yaitu antara 57,7% - 73,9% dari gross domestic product (GDP). Konsumsi rumah tangga terjadi karena adanya pendapatan yang diperoleh rumah
tangga yang berasal dari penggunaan faktor-faktor produksi yang dimilikinya yang dibedakan menjadi 4 golongan yaitu tanah, tenaga kerja,modal keahlian kewirausahaan.

Pajak pendapatan perseorangan dikenakan pada setiap individu yang mendapatkan upah atau gaji pokok diatas pendapatan kena pajak dalam suatu periode tertentu. Pendapatan individu yang sudah dikurangi pajak pendapatan perseorangan merupakan pendapatan disposibel. Sehingga pendapatan posibel dapat digunakan untuk keperluan konsumsi atau membeli barang atau jasa yang mereka inginkan. Pemungutan pajak oleh pemerintah tersebut akan berakibat berkurangnya besaran pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh individu, dan pajak yang dipungut oleh pemerintah akan mengakibatkan berkurangnya besaran pendapatan yang akan digunakan untuk keperluan konsumsi. Pendapatan posibel masyarakat Indonesia cenderung mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan pendapatan masyarakat Indonesia dengan besaran mencapai 400%.
           
Konsumsi mempunyai hubungn yang erat dengan tingkat tabungan  dimana tabungan adalah pendapatan yang tidak dipakai dalam kegiatan konsumsi atau tidak digunakan untuk belanja. Suku bunga juga mempengaruhi tingkat konsumsi melalui perantara tabungan. Semakin tinggi suku bunga maka semakin besar jumlah uang yang ditabung dan semakin kecil uang yang akan dibelanjakan untuk dikonsumsi. Semakin rendah tingkat suku bunga maka semakin kecil jumlah uang yang akan ditabung dan semakin besar uang yang akan dibelanjakan untuk dikonsumsi. Hubungan antara konsumsi dan tabungan akan bertentangan dimana peningkatan suku bunga akan mempengaruhi pola konsumsi masyarakat.
*Baginda Persaulian, SE, ME, Karyawan Bank BTPN
**Dr. Hasdi Aimon, M.Si adalah Dosen Fakultas Ekonomi UNP
***Drs. Ali Anis, M.Si adalah Dosen Fakultas Ekonomi UNP


ANALISIS PENGARUH INFLASI, SUKU BUNGA BI, DAN PRODUK
DOMESTIK BRUTO TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA) BANK SYARIAH
DI INDONESIA

Krisis moneter terjadi pada tahun 1998 telah membuat beberapa bank dilikuidasi karena tidak mampu melaksanakan kewajibannya terhadap nasabah akibat dari suku bunga yang tinggi yang telah ditetapkan pemerintah selama krisis moneter berlangsung. Terkecuali bank syariah, karena bank ini tidak menganut sistem bunga. Dalam hal ini bank syariah tidak menglami pergerakan negatif. Dan banksyariah juga tidak memiliki kewajiban untuk membayar kewajiban bunga kepada nasabahnya. Salah satu cara untuk melihat perkembangan bank adalah dengan melihat tingkat profitabilitasnya serta tingkat efisiensinya. Dalam variabel makroekonomi yang digunakan adalh inflasi, suku bunga BI (BI Rate), dan gross domestic product (GDP) ketiga faktor ini merupakan dampak dari krisis financial global taun 2008.

Hunungan inflasi terhadap ROA adlah inflasi akan menurunkan nilai riil tabungan karena masyarakat akan mempergunakan hartanya dan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhannya dan mencukupi biaya pengeluaran karena harga-harga barang yang naik, sehingga mempengaruhi profitabilitas suatu bank. Pengaruh inflasi terhadap ROA adalah semakin besar inflasi maka semakin besar ROA perusahaan, sebaliknya semakin kecil inflasi maka semakin kecil pula ROA perusahaan.


Hubungan BI Rate terhadap ROA  juga mempengaruhi profitabilitas suatu bank. Semakin tinggi suku bunga BI maka akan diikuti naiknya suku bunga deposito yang berakibat langsung penurunan sumber dana terhadap pihak ketiga bank syariah. Dari penelitian ini BI Rate tidak berpengaruh terhadap ROA. Tetapi berpengaruh pada ROA terhadap bank syariah karena nasabah akan memindahkan dananya ke bank konvensional guna mendapatkan bunga yang lebih tinggi.

Hubungan gross domestic product (GDP) terhadap ROA  juga menjadi salah satu indicator makro ekonomi yang mempengaruhi profitabilitas bank. Jika GDP naik maka pendapatan masyarakat juga akan naik. Sehingga kemampuan menabung (saving) masyarakat juga akan meningkat. Peningkatan menabung (saving) masyarakat ini yang akan mempengaruhi profitabilitas bank syariah. Dengan demikian indicator GDP ini berpengaruh positif bagi ROA terhadap bank syariah. Naik atau turunnya GDP akan mempengaruhi kemampuan saving oleh masyarakat di bank. Suku bunga BI dapat berpengaruh negative terhadap ROA. Namun tidak pada inflasi dan gross domestic product dua indikator ini dapat berpengaruh positif terhadap ROA.
*Ayu Yanita Sahara

PENGARUH INFLASI DAN PERUBAHAN KURS TERHADAP GDP INDONESIA PERIODE 1997 – 1998

Pada pertengahan tahun 1997, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berdampak negatif pada kondisi perekonomian dan krisis ekonomi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor baik yang bersifat eksternal maupun internal. Dampak krisis tersebut ditandai dengan situasi perekonomian Indonesia pada tahun setelah terjadinya krisis mengalami pasang surut, hal ini ditunjukkan dengan perubahan Gross Domestic Product (GDP) riil, tingkat pengangguran, jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia, pada awal tahun 1998 GDP riilnya turun 13,01 % dan jumlah orang dewasa yang bekerja menurun dari 95,3 % ke 94,5 % dan tingkat pengangguran meningkat dari 4,7 % ke 5,5 %. Satu tahun kemudian (1999) GDP riil tumbuh sebesar 0,31 % dan jumlah penduduk dewasa yang bekerja menurun sebesar 93,7 % dan tingkat pengangguran meningkat kembali ke 6,3 % (BPS, 2000). Dan Dengan diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang penuh/bebas (freely floating system) yang dimulai sejak Agustus 1997, posisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (khususnya US$) ditentukan oleh mekanisme pasar.
           
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tingkat pengangguran, inflasi dan perubahan kurs terhadap pertumbuhan GDP . Data yang digunakan dalam penelitian ini data sekunder. Data itu meliputi data tahunan inflasi, perubahan kurs dan GDP peride 1997 sampai 2008. Hasil penelitian ini mengindikasikan ada pengaruh inflasi(X1), dan perubahan kurs (X2) terhadap GDP (Y) secara simultan berdasarkan nilai Fhitung sebesar 23,881 dengan tingkat signifikansi 0.000. Selain itu tidak ada pengaruh yang signifikan perubahan kurs (X2) terhadap GDP (Y) dan ada pengaruh negatif antara inflasi dengan GDP (Y) secara parsial dengan nilai β1 = -0,251 dan sig t = 0,000, β2=0,000 dan sig t= 0.882 Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan terdapat pengaruh negatif tingkat inflasi terhadap pertumbuhan PDB atau GDP .Tidak ada pengaruh yang signifikan perubahan kurs terhadap pertumbuhan PDB atau GDP Berdasarkan pada Uji F dimana diperoleh Fhitung >Ftabel yang menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan inflasi dan perubahan kurs secara simultan terhadap PDB atau GDP .
            Saran dalam penelitian ini adalah : (1) Penelitian ini perlu dilakukan lebih lanjut dan mendalam perihal signifikansi kurs terhadap PDB. (2) Untuk meningkatkan PDB di Indonesia pemerintah diharapkan menekan angka inflasi dan nilai kurs agar tidak terus mengalami kenaikan yang signifikan.
*Dedik Eko Purwanto









   C.  KESIMPULAN
Masyarakat Negara Indonesia akan mendapatkan pendapatannya lebih besar apabila tingkat biaya pajak yang dipungut oleh pemerinah rendah. Dan ada kemampuan masyarakatnya untuk saving atau menabung. Tingkat keinginan masyarakat untuk menabung akan lebih tinggi apabila suku bunga bank tinggi. Dan sebaliknya apabila suku bunga suatu bank rendah maka masyarakatpun tidak terlalu tertarik untuk melakukan saving atau menabung. Dari tingkat saving inilah yang dapat mempengaruhi profitabilitas suatu bank di Indonesia. Prestasi ekonomi suatu Negara juga dapat dilihat dari pengeluaran agregat pembelanjaan masyarakat terhadap barang dan jasa. Dari ketiga kesimpulan diatas perekonomian Indonesia sangat dipengaruhi oleh beberapa indikator. Diantaranya adalah Inflasi, BI Rate, gross domestic product. Indikator-indikator tersebut memiliki peranan yang penting dalam profitabilitas bank yang ada di Indonesia. Dimana BI Rate dapat berpengaruh negatif pada ROA. Namun sebaliknya pada inflasi dan gross domestic product kedua indikator tersebut dapat memberi dampak positif terhadap ROA.

Senin, 05 November 2012

Analisis - Kartel Kedelai

Kartel kedelai tidak berkembang karena dalam 5 thun pnambahan lahan sebanyak 500 hektar belum terealisasi . Kedelai mnjadi harga mati yg menyebabkan petani tersisih dan konsumen rugi krna harus membeli makanan yg berbahan dasar kedelai .
Negara tdk mndapat pajak dan pangan yg masuk dri negara lain justru negara diberikan pajak tinggi karena ingin melindungi petani dalam negeri dan pemerintaj tdk menghapus bea masuk krna bsa memberikan intensif seperti benih berkualitas unggul untuk memperbaiki kualitas kedelai yang ada di dalam negeri

Senin, 29 Oktober 2012

Jangan Pernah Meremehkan Orang Lain


Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.

Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.

“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”

Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan.
Ada kalanya kita tidak melihat apa yang melekat pada tubuh seseorang saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan seseorang karena melihat penilaian dari luar, Anda tidak akan pernah tahu pada beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang Anda remehkan bisa jadi merupakan pengantar rejeki yang tak terduga.

Teori manajemen Ilmiah

Teori Manajemen Ilmiah

Definisi dan Sejarah Munculnya Teori Manajemen Ilmiah


Aliran Manajemen Ilmiah : Aliran ini menggunakan matematika dan ilmu statistika untuk mengembangkan teorinya. Menurut aliran ini, pendekatan kuantitatif merupakan sarana utama dan sangat berguna untuk menjelaskan masalah manajemen.

·         Frederick Winslow Taylor
Pertama kali manajemen ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan di bahas, sekitar tahun 1990-an. Taylor adalah manajer dan penasihat perusahaan dan merupakan salah seorang tokoh besar manajemen. Taylor di kenal sebagai Bapak Manajemen Ilmiah .

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitiannya yaitu bahwa perusahaan akan mendapat hasil yang memuaskan apabila pekerjaan yang akan di lakasanakan harus di rencanakan, Juga memperhatikan unsur teknologinya (mesin) maupun pelaksanaan nya dalam hal ini adalah manusianya .

Taylor mengemukakan 4 prinsip Scientific Management yaitu :

1, menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan di setiap unsur-unsur kegiatan .

2. memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu, selanjutnya memberikan latihan dan pendiikan kepada pekerja .

 3, setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil pengetahuan di dalam menjalankan tugasnya.

4. harus dijalin kerja sama yang baik antara pemimpin dengan pekerja .

·         Frank Bunker Gilbreth dan Lilian Gilbreth
Suami isteri yang berkecimpung dalam mengembangkan manajemen ilmiah. Frank adalah pelopor study gerak dan waktu, mengemukakan beberapa teknik manajemen yang di ilhami oleh pendapat dari Taylor. Dia tertarik pada pengerjaan suatu pekerjaan yang memperoleh efisiensi tinggi .

Lilian Gilbreth cenderung tertarik pada aspek-aspek dalam kerja, seperti penyeleksian penerimaan tenaga kerja baru, penempatan dan latihan bagi tenaga kerja baru. Bukunya berjudul The Pshikology of Management, menyatakan bahwa tujuan akhir dari manajemen ilmiah yaitu membantu para karyawan untuk meraih potensinya sebagai makhluk hidup .

·         Henry Laurance Gantt
Henry merupakan asisten dari Taylor, dia berdiri sendiri sebagai seorang konsultan, diamana titik perhatiannya pada unsur manusia dalam menaikan produktivitas kerjanya.

·         Harrington Emerson
Prinsip pokoknya adalah tentang tujuan, dimana dari hasil penelitiannya menunjukan kebenaran prinsip yaitu bahwa uang akan lebih berhasil bila mengetahui tujuan penggunanya. Bukti dari pendapat Emerson yaitu adanya istilah Management By Objective (MBO) .
               

Referensi :